Jumat, 05 Oktober 2018

cerpen remaja



                                                            TUGAS CERPEN

Nama                           : Nabilla Abidah Al Fita
Kelas /no absen           : VIII B /25
Tema                           : Liburan sekolah


                                                SESUATU  DI DESA

            Bulan puasa telah tiba, tidak lama kemudian disusul oleh libur sekolah yang panjang. Aku sangat senang karena libur sekolah yang kunanti-nanti akhirnya terjadi juga.walaupun liburanku hanya di rumah saja  karena ayah dan ibuku masih tetap bekerja ,aku tetap senang karena aku bisa menginap di rumah nenekku . disana aku bisa bermain dengan kucingku yang kusayangi. Tidak terasa hari pun mulai gelap dan adzan magrib mulai menggema. Aku cepat- cepat berbuka puasa karena tenggorokanku terasa sangat kering. Setelah berbuka puasa, kulanjutkan dengan solat magrib. Selama puasa aku lebih sering menginap di rumah nenekku, karena aku lebih sering bermain dengan kucingku.
            “hahahahahaha”.aku tertawa hingga mengeluarkan air mata melihat kucingku yang tiba-tiba berlari cepat kemudian menabrak kursi  hingga menimbulkan bunyi seperti orang yang terbentur  tembok.Entah apa yang membuatku tertawa,tapi hanya dengan melihat wajahnya saja aku agak tertawa saking konyolnya. Setelah puas tertawa,aku mengusap- usap kepala kucingku yang terlihat masih kaget.
            Singkat cerita, hari raya idul fitri mulai dekat saat itulah aku lebih sering berada di rumahku dan lebih jauh dengan kucingku. Aku agak sedih karena canda tawa saat bermain dengan kucingku sekarang sudah menjadi bayangan. Walaupun aku masih bisa menemuinya di lain hari.Tapi aku tidak larut dalam kesedihan karena hari raya sudah dekat. Itu berarti hari saat aku pulang kampung juga sudah dekat .aku sudah membayangkan saat-saat menyenangkan di desa, walau terkadang perkiraan tidak sesuai dengan kenyataan.H-4, pada sore harinya  aku dan keluarga mulai mencari jajan-jajan yang akan disuguhkan pada tamu seperti yang lainya.kam sampai rumah pada malm hari sekitar jam 8 malam. Sesampainya di rumah, aku makan sambil melihat tv yang pada saat itu menayangkan sinetron horror. Awalnya aku tidak takut karena itu hanya cerita saja. Tapi saat makananku sudah habis, aku mematikan tv dan mulai pergi ke kamar mandi untuk gosok gigi dan wudhu. Lampu kamar mandi di rumahku dibuat otomatis. Saat pintu tertutup lampu baru akan menyala. Saat aku mulai keluar kamar mandi, pintu dapur tiba- tiba agak terbuka sendiri. Aku mencoba berpikir itu karena angin walaupun saat itu tidak berhembus angin sama sekali.aku hati- hati saat masuk ruang tengah yang saat itu lampunya sudah dimatikan oleh kakakku. Saat aku akan menutup pintu dapur kembali, ada sesosok siluet tubuh seperti aku. Dan….
            “doooorrrr”.suara siluet tubuh yang tadi kulihat ternyata kakakku. “waaaaaaaaa” aku kaget dan teriak. Walaupun itu sudah terlambat karena aku tadi masih belum mencerna kejadian barusan.
            “waaahahhahahahahha”. Kakakku mulai tertawa dan aku hanya bisa mengomel dan memukulinya. Selesainya aku solat isya,aku memaatikan lampu kamar dan gantian menakut- nakuti kakakku.“hati-hati lo di sebelahmu ada permen sugus, alias pocong. Hihihihih”.lalu aku yang tidur paling pojok kanan berbalik badan menghadap tembok yang ada di sebelah kananku. Aku bolak- balik pindah posisi tidurku tapi tetap saja tidak nyaman. Aku mencoba mengambil hpku yang berada di atas lemari kecil tepat di sebelahku. Lalu aku melihat perpesanan yang ternyata tidak ada pesan yang masuk. Lalu aku beralih melihat jam yang ada di layar utama. Ternyata sudah pukul 11 malam. Aku jadi ingat novel yang pernah aku baca, berjudul “denting piano pukul 11 malam”.Aku mengingat cerita itu jadi merasa takut dan terus memejamkam mata, tidak bergerak sedikit pun dalam balutan selimutku yang menutupi dari ujung kaki sampai kepalaku. Kantuk mulai menyerang diriku. Tidak lama kemudian aku tertidur pulas.
            “Nak, ayo bangun udah waktunya sahur. Ayo nanti keburu imsak lo” terdengar samar suara ibuku membangunkanku. Aku menguap sambil berjalan lemas menuju meja makan karena masih mengantuk. Setelah sahur, masih ada waktu sekitar 10 menit yang langsung kugunakan untuk tidur sebentar. Sekarang aku memasuki h-3 yang sebentar lagi hari raya akan tiba. Samar- samar kudengar suara adzan subuh aku mulai beranjak untuk mengambil air wudhu dan segera solat supaya bisa tidur lebih cepat.
            “hhooamm”. Aku menguap sambil terduduk di ranjangku. Aku melihat jam sudah pukul 8 pagi. aku menuju sofa yang ada di ruang tengah dan menyalakan televisi.
 Singkat cerita, h-2 aku menyiapkan barang-barang yang akan dibawa untuk lebaran di desa. Tasku terasa sesak oleh barang bawaanku. Setelah berkemas, pada malam harinya kami pun bersiap-siap untuk berangkat. Kami memilih berangkat pada malam hari, karena udaranya yang dingin, tidak panas, jalanan tidak terlalu macet. Aku senang bisa melihat bintang yang gemerlap karena jauh dari keramaian kota yang polusi cahayanya cukup parah, kadang aku juga mencari rasi bintang supaya aku sibuk sepanjang perjalanan. Pagi harinya kami pun sampai di desa. jalan yang berliku, jurang yang curam, suara serangga yang terdengar seperti tiada hentinya menjadi ciri khas yang membuatku betah di desa karena masih sangat alami.
Malam harinya…
“nak, nanti tidurnya jangan malem-malem besok kan solat ied. Besok kalau dibangunin biar nggak ngantuk”. ibuku yang ada disampingku mengingatkan. Dan aku hanya menjawab “ hmm..”. setelah solat isya, aku langsung tidur berdesakan dengan kakakku dan ibuku karena ranjang disana hanya bisa muat 2 orang. Dan kakakku memaksakan tidur bertiga walaupun nantinya akan bersesakan. Kami tidur seperti posisi di rumah. Aku paling pojok, kakakku tengah dan sebelahnya ibuku. Tembok disana masih terbuat dari anyaman bambu jadi sedikit bercelah. Aku yang dekat dengan tembok, mengintip suasana diluar. Terlihat sangat gelap tanpa cahaya sedikitpun. Tidak lama kemudian, aku mendengar suara gamelan yang ditabuhkan. Sepertinya jauh dari rumah karena suaranya begitu samar.
            “loh ini kan tengah malam, nggak mungkin ada orang main gamelan”. Tanyaku dalam hati. Dan saat itulah aku mulai kebingungan karena semua orang sudah tidur hanya tinggal aku yang belum tidur. Dan yang masih segar dalam ingatanku adalah, saat dimana aku mendengar langkah kaki mondar-mandir di depan kamarku. Biasanya orang yang lewat di depan kamarku, pasti terbentuk bayangan tubuhnya. Tapi yang ini…… benar-benar lain. Pikiran negatif mulai menyerangku
            “jangan jangan…..” aku tidak berani meneruskan kalimatku walau dalam hati sekalipun. Karena sekarang aku sangat takut.
Doa. Tidak terpikirkan olehku karena memikirkan siapa yang ada di depan. Setelah aku ingat, aku langsung membaca ayat kursi yang katanya bisa mengusir makluk gaib. Tiba-tiba aku tidak ingat apapun dan langsung tidur lelap hingga pagi tiba. Aku tidak menceritakan pada siapapun tentang ini. Karena aku sendiri juga sulit mencerna kejadian itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar