TUGAS
CERPEN
Nama :
Nabilla Abidah Al Fita
Kelas /no absen : VIII B /25
Tema :
Liburan sekolah
SESUATU DI DESA
Bulan puasa telah tiba, tidak lama
kemudian disusul oleh libur sekolah yang panjang. Aku sangat senang karena
libur sekolah yang kunanti-nanti akhirnya terjadi juga.walaupun liburanku hanya
di rumah saja karena ayah dan ibuku
masih tetap bekerja ,aku tetap senang karena aku bisa menginap di rumah nenekku
. disana aku bisa bermain dengan kucingku yang kusayangi. Tidak terasa hari pun
mulai gelap dan adzan magrib mulai menggema. Aku cepat- cepat berbuka puasa
karena tenggorokanku terasa sangat kering. Setelah berbuka puasa, kulanjutkan
dengan solat magrib. Selama puasa aku lebih sering menginap di rumah nenekku,
karena aku lebih sering bermain dengan kucingku.
“hahahahahaha”.aku tertawa hingga
mengeluarkan air mata melihat kucingku yang tiba-tiba berlari cepat kemudian
menabrak kursi hingga menimbulkan bunyi
seperti orang yang terbentur tembok.Entah
apa yang membuatku tertawa,tapi hanya dengan melihat wajahnya saja aku agak
tertawa saking konyolnya. Setelah puas tertawa,aku mengusap- usap kepala
kucingku yang terlihat masih kaget.
Singkat cerita, hari raya idul fitri
mulai dekat saat itulah aku lebih sering berada di rumahku dan lebih jauh
dengan kucingku. Aku agak sedih karena canda tawa saat bermain dengan kucingku
sekarang sudah menjadi bayangan. Walaupun aku masih bisa menemuinya di lain
hari.Tapi aku tidak larut dalam kesedihan karena hari raya sudah dekat. Itu
berarti hari saat aku pulang kampung juga sudah dekat .aku sudah membayangkan
saat-saat menyenangkan di desa, walau terkadang perkiraan tidak sesuai dengan
kenyataan.H-4, pada sore harinya aku dan
keluarga mulai mencari jajan-jajan yang akan disuguhkan pada tamu seperti yang
lainya.kam sampai rumah pada malm hari sekitar jam 8 malam. Sesampainya di
rumah, aku makan sambil melihat tv yang pada saat itu menayangkan sinetron
horror. Awalnya aku tidak takut karena itu hanya cerita saja. Tapi saat
makananku sudah habis, aku mematikan tv dan mulai pergi ke kamar mandi untuk
gosok gigi dan wudhu. Lampu kamar mandi di rumahku dibuat otomatis. Saat pintu
tertutup lampu baru akan menyala. Saat aku mulai keluar kamar mandi, pintu
dapur tiba- tiba agak terbuka sendiri. Aku mencoba berpikir itu karena angin
walaupun saat itu tidak berhembus angin sama sekali.aku hati- hati saat masuk
ruang tengah yang saat itu lampunya sudah dimatikan oleh kakakku. Saat aku akan
menutup pintu dapur kembali, ada sesosok siluet tubuh seperti aku. Dan….
“doooorrrr”.suara siluet tubuh yang
tadi kulihat ternyata kakakku. “waaaaaaaaa” aku kaget dan teriak. Walaupun itu
sudah terlambat karena aku tadi masih belum mencerna kejadian barusan.
“waaahahhahahahahha”. Kakakku mulai
tertawa dan aku hanya bisa mengomel dan memukulinya. Selesainya aku solat
isya,aku memaatikan lampu kamar dan gantian menakut- nakuti kakakku.“hati-hati
lo di sebelahmu ada permen sugus, alias pocong. Hihihihih”.lalu aku yang tidur
paling pojok kanan berbalik badan menghadap tembok yang ada di sebelah kananku.
Aku bolak- balik pindah posisi tidurku tapi tetap saja tidak nyaman. Aku
mencoba mengambil hpku yang berada di atas lemari kecil tepat di sebelahku.
Lalu aku melihat perpesanan yang ternyata tidak ada pesan yang masuk. Lalu aku
beralih melihat jam yang ada di layar utama. Ternyata sudah pukul 11 malam. Aku
jadi ingat novel yang pernah aku baca, berjudul “denting piano pukul 11 malam”.Aku
mengingat cerita itu jadi merasa takut dan terus memejamkam mata, tidak
bergerak sedikit pun dalam balutan selimutku yang menutupi dari ujung kaki
sampai kepalaku. Kantuk mulai menyerang diriku. Tidak lama kemudian aku
tertidur pulas.
“Nak, ayo bangun udah waktunya
sahur. Ayo nanti keburu imsak lo” terdengar samar suara ibuku membangunkanku.
Aku menguap sambil berjalan lemas menuju meja makan karena masih mengantuk.
Setelah sahur, masih ada waktu sekitar 10 menit yang langsung kugunakan untuk
tidur sebentar. Sekarang aku memasuki h-3 yang sebentar lagi hari raya akan
tiba. Samar- samar kudengar suara adzan subuh aku mulai beranjak untuk
mengambil air wudhu dan segera solat supaya bisa tidur lebih cepat.
“hhooamm”. Aku menguap sambil
terduduk di ranjangku. Aku melihat jam sudah pukul 8 pagi. aku menuju sofa yang
ada di ruang tengah dan menyalakan televisi.
Singkat cerita, h-2 aku menyiapkan
barang-barang yang akan dibawa untuk lebaran di desa. Tasku terasa sesak oleh
barang bawaanku. Setelah berkemas, pada malam harinya kami pun bersiap-siap
untuk berangkat. Kami memilih berangkat pada malam hari, karena udaranya yang
dingin, tidak panas, jalanan tidak terlalu macet. Aku senang bisa melihat
bintang yang gemerlap karena jauh dari keramaian kota yang polusi cahayanya
cukup parah, kadang aku juga mencari rasi bintang supaya aku sibuk sepanjang
perjalanan. Pagi harinya kami pun sampai di desa. jalan yang berliku, jurang
yang curam, suara serangga yang terdengar seperti tiada hentinya menjadi ciri
khas yang membuatku betah di desa karena masih sangat alami.
Malam
harinya…
“nak, nanti
tidurnya jangan malem-malem besok kan solat ied. Besok kalau dibangunin biar
nggak ngantuk”. ibuku yang ada disampingku mengingatkan. Dan aku hanya menjawab
“ hmm..”. setelah solat isya, aku langsung tidur berdesakan dengan kakakku dan
ibuku karena ranjang disana hanya bisa muat 2 orang. Dan kakakku memaksakan
tidur bertiga walaupun nantinya akan bersesakan. Kami tidur seperti posisi di
rumah. Aku paling pojok, kakakku tengah dan sebelahnya ibuku. Tembok disana
masih terbuat dari anyaman bambu jadi sedikit bercelah. Aku yang dekat dengan
tembok, mengintip suasana diluar. Terlihat sangat gelap tanpa cahaya
sedikitpun. Tidak lama kemudian, aku mendengar suara gamelan yang ditabuhkan.
Sepertinya jauh dari rumah karena suaranya begitu samar.
“loh ini kan tengah malam, nggak
mungkin ada orang main gamelan”. Tanyaku dalam hati. Dan saat itulah aku mulai
kebingungan karena semua orang sudah tidur hanya tinggal aku yang belum tidur.
Dan yang masih segar dalam ingatanku adalah, saat dimana aku mendengar langkah
kaki mondar-mandir di depan kamarku. Biasanya orang yang lewat di depan
kamarku, pasti terbentuk bayangan tubuhnya. Tapi yang ini…… benar-benar lain.
Pikiran negatif mulai menyerangku
“jangan jangan…..” aku tidak berani
meneruskan kalimatku walau dalam hati sekalipun. Karena sekarang aku sangat
takut.
Doa. Tidak
terpikirkan olehku karena memikirkan siapa yang ada di depan. Setelah aku
ingat, aku langsung membaca ayat kursi yang katanya bisa mengusir makluk gaib.
Tiba-tiba aku tidak ingat apapun dan langsung tidur lelap hingga pagi tiba. Aku
tidak menceritakan pada siapapun tentang ini. Karena aku sendiri juga sulit
mencerna kejadian itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar